no fucking license
Bookmark

Sopir Taksi Hijau vs Birokrasi Siput: Sebuah Drama di Tanah Lambung Mangkurat

 


Banjarbaru - Di Banjarmasin yang terkenal dengan Sungai Martapura, kisah pilu kembali terukir. Puluhan sopir taksi hijau, pahlawan jalanan yang mengantarkan warga kemana-mana, menumpahkan rasa kecewa di depan gerbang DPRD Banjarbaru. Izin trayek yang mandek di birokrasi bagaikan belati tak kasian yang menusuk perut kehidupan mereka.


Bukannya tamasya, mereka datang dengan 'senjata' utama: angkot-angkot kesayangan yang diparkir rapi di depan gedung. Di atas angkot, terpasang spanduk berisi keluhan, bagaikan bendera perlawanan terhadap birokrasi yang lamban bagai siput.


Helvin, sang juru bicara, mengutarakan isi hati mereka yang resah. Sejak Desember 2023, permohonan perpanjangan izin trayek bagaikan ditelan bumi, tak kunjung mendapat kabar dari Dishub Banjarbaru. "Kami mondar-mandir ke kantor Dishub, tapi nihil. Jawabannya selalu samar-samar," keluhnya dengan nada getir.


Kekecewaan tak berhenti di situ. Lambatnya proses ini menggerogoti penghasilan mereka. "Penumpang banyak yang ragu naik angkot kami karena izinnya tak jelas," tutur Helvin. Miris sekali nasib para sopir ini.


Kedatangan para sopir taksi hijau ini bagaikan tamparan keras bagi Dishub Banjarbaru. Birokrasi yang rumit dan berbelit-belit bagaikan benang kusut yang tak kunjung terurai. Roda ekonomi para sopir terhambat, keresahan pun merebak di masyarakat.

"Kami mohon DPRD Banjarbaru membantu menyelesaikan masalah ini," pinta Helvin. "Kami hanya ingin mencari nafkah dengan tenang, tanpa dihantui kecemasan karena izin trayek yang tak kunjung pasti."


Suara mereka menggema di ruang sidang, bagaikan teriakan lantang yang menuntut solusi. Teriakan yang mencerminkan keresahan dan harapan akan perubahan.


DPRD Banjarbaru pun didesak untuk segera bertindak. Birokrasi yang lamban dan berbelit-belit harus segera dibenahi. Kehidupan para sopir taksi hijau yang bergantung pada izin trayek tak boleh dibiarkan terkatuk dalam birokrasi yang tak berujung pangkal.


Mampukah teriakan mereka didengar? Akankah solusi segera terwujud? Kita tunggu kelanjutan dramanya. Semoga saja, kisah pilu ini tak terulang kembali di Tanah Lambung Mangkurat. @rofiq

Posting Komentar

Posting Komentar