![]() |
| [Foto : Azam Khan Mengecam: Penggantian Azan dengan Running Text Saat Misa Paus Fransiskus, Penghinaan atau Toleransi?] |
GLOBE NASIONAL -Jakarta – Pemerintah kembali menuai kontroversi dengan kebijakannya yang dianggap menyentuh ranah sensitif agama. Instruksi terbaru dari pemerintah untuk mengganti penayangan azan Magrib di televisi dengan running text selama misa Paus Fransiskus pada 5 September, telah memancing amarah dari berbagai kalangan, terutama umat Islam.
Keputusan ini mendapat dukungan dari beberapa pihak, termasuk Ketua MUI bidang fatwa, Asrorun Niam Salleh, yang menyatakan bahwa kebijakan tersebut tidak melanggar syariat Islam. Menurutnya, penggantian tayangan azan dengan running text merupakan upaya untuk memberikan kesempatan bagi umat Kristiani yang tidak dapat beribadah di gereja. "Ini solusi yang cukup bijak," ujarnya, menambahkan bahwa azan yang ditayangkan di TV hanyalah rekaman elektronik, bukan panggilan ibadah yang wajib disiarkan secara mutlak.
Namun, reaksi yang sangat berbeda datang dari Azam Khan, Sekretaris Jenderal TPUA (Tim Pembela Ulama dan Aktivis). Dalam wawancara eksklusif dengan GLobe Nasional pada 4 September 2024, Azam mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam terhadap kebijakan ini. "Ini adalah pelecehan terhadap Islam yang tidak bisa dibiarkan," tegasnya.
Azam, yang juga seorang advokat, menegaskan bahwa azan bukan sekadar ritual biasa. "Azan adalah panggilan Allah yang telah bergema sejak zaman Nabi Ibrahim hingga Bilal. Ini adalah bagian dari identitas kita sebagai umat Islam," katanya dengan nada tinggi. Menggantikan azan dengan running text, menurutnya, adalah bentuk pengabaian terhadap nilai-nilai keagamaan yang telah dijunjung tinggi selama berabad-abad.
Azam juga meluapkan kemarahannya terhadap penggunaan Masjid Istiqlal untuk kegiatan yang dianggapnya tidak sesuai dengan ajaran Islam. "Masjid itu bukan tempat untuk ritual agama lain. Ini adalah rumah Allah, dan tidak seharusnya dipakai untuk hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam," ucapnya dengan tegas.
Lebih lanjut, Azam menyerukan agar Menteri Agama segera mengambil tindakan tegas untuk menghentikan kebijakan yang ia anggap sebagai upaya merendahkan Islam ini. "Ini bukan soal toleransi, ini adalah penghinaan yang nyata. Menyerukan azan dalam bentuk running text? Ini langkah yang merusak dan memperkeruh suasana," serunya dengan penuh emosi.
Globe Nasional akan terus mengikuti perkembangan isu ini, dan akan selalu memberikan informasi yang paling akurat dan independen untuk pembaca. Dalam situasi yang semakin memanas ini, suara-suara kritis seperti Azam Khan mengingatkan kita akan pentingnya menjaga harmoni antar umat beragama tanpa mengorbankan nilai-nilai fundamental.[*]





Posting Komentar