no fucking license
Bookmark

Ketika Akal Tak Lagi Berfungsi, Tangan yang Menghancurkan: Refleksi Mengerikan Dunia Kita

 

Rocky Gerung Vs Silvester Andika. 
Sebagai seseorang yang meyakini pentingnya perdebatan yang beradab dan bermartabat, saya dibuat terhenyak oleh video konfrontasi fisik antara Rocky Gerung dan Silvester Andika. Tidak hanya memalukan, insiden ini menampar keras wajah kita semua, menunjukkan betapa rapuhnya nalar dalam menghadapi kekerasan.

Kejadian ini adalah potret suram dari dunia kita yang semakin keras, penuh amarah, di mana argumen tidak lagi dipatahkan dengan logika, melainkan dengan pukulan. Ketika akal berhenti berfungsi, tangan mulai berbicara. Dan ketika kekerasan menjadi bahasa utama, maka yang tercederai adalah martabat kita sebagai manusia yang berpikir.

Kritik dan kebebasan berpendapat adalah pilar utama demokrasi, tapi bukan berarti itu adalah izin untuk melempar hinaan atau serangan fisik. Kita telah kehilangan arah jika perbedaan pendapat harus diselesaikan dengan otot dan emosi. Yang kita lihat di sini adalah kegagalan besar kita semua—kegagalan menghargai perbedaan, kegagalan merawat dialog yang sehat, dan yang paling menyedihkan, kegagalan menjaga kehormatan diri.

Tindakan kekerasan ini bukan sekadar permasalahan individu, tetapi gambaran dari masyarakat yang semakin tidak siap menghadapi kritik. Ini adalah tanda bahwa kita lebih sering memilih jalan singkat melalui agresi daripada menantang diri untuk berpikir lebih keras, berbicara lebih bijak, dan mendengarkan lebih dalam. 

Kita harus bertanya: ke mana hilangnya martabat dalam perdebatan? Di mana letak kehormatan ketika tangan melayangkan pukulan, dan lidah hanya mengeluarkan caci maki? Kekerasan semacam ini, betapapun kecilnya, adalah pengkhianatan terhadap intelektualitas, melucuti kita dari apa yang membuat kita manusia—akal budi.

Semua ini mengingatkan saya bahwa kita hidup di tengah masyarakat yang terlalu sibuk berteriak, tapi malas mendengarkan. Mengajarkan generasi muda etika debat bukan lagi sekadar penting—itu adalah kebutuhan mendesak. Kita harus mendidik mereka bahwa kemenangan dalam berdebat bukan tentang membungkam lawan, apalagi menghancurkan mereka secara fisik, melainkan tentang mencari kebenaran, walau kebenaran itu tidak selalu berpihak pada kita.

Jika kita terus berjalan di jalan ini, di mana akal dikesampingkan dan tangan dibiarkan bicara, kita tidak hanya akan kehilangan akal sehat, tapi juga akan meruntuhkan fondasi demokrasi yang telah susah payah kita bangun. 

Ingat, ketika akal tak lagi berfungsi dan tangan yang berbicara, yang terluka bukan hanya satu orang—yang terkoyak adalah martabat kita sebagai bangsa.

Rofiq bin Hasan

Dan, siapa pun kau—yang merasa dirimu intelektual, yang mengklaim dirimu penjaga akal budi bangsa ini. Entah kau yang kini merasa paling benar atau yang bersikukuh ingin menguasai ruang debat publik, rakyat tak peduli.

Rakyat hanya ingin perbedaan pendapat dijawab dengan logika, bukan dengan kekerasan. Mereka tak butuh mulut yang hanya penuh hujatan, tak butuh tangan yang melayang hanya karena tak sanggup melawan argumen. 

Tapi lihat apa yang terjadi! Saat akal tak lagi berfungsi, tangan pun mulai berbicara. Ketika logika tak mampu memecahkan masalah, maka tinju menjadi jawabannya. Apakah ini yang kita sebut sebagai negara intelektual? Sebuah negeri yang katanya menjunjung tinggi kebebasan berpendapat?

Siapa pun kau, yang kini merasa punya kuasa dalam ruang debat bangsa ini, sadarkah kau bahwa setiap kata yang diucapkan harusnya membawa makna, bukan bara? Sadarkah kau, bahwa ketika tanganmu yang berbicara, yang terluka bukan hanya lawanmu, tapi martabat kita sebagai bangsa?

Rakyat pasti menagih akal sehatmu. Siapa pun kau—yang duduk di kursi pengaruh, bersediakah kau buka telingamu yang tersumbat oleh kebencian itu? Bersediakah kau buka matamu yang kabur oleh ego itu? Sanggupkah kau membuka hatimu yang mulai berkarat oleh ambisi?

Ketika akal buntu, tangan mulai berbicara. Dan tahukah kau apa yang kau hancurkan? Bukan hanya tubuh lawanmu, tapi kehormatan kita semua. Kau tak hanya membutakan mata rakyat, tapi kau menggelapkan masa depan diskusi intelektual kita. 

Sekali lagi, siapa pun kau, yang merasa dirimu pemimpin opini atau penjaga nalar bangsa ini, sudah sebegitu 'peteng ndedet'-kah hatimu? Sudah sekelam itu kah akal sehatmu, hingga hanya tangan yang kini berbicara?

Penulis :@rofiq bin Hasan




Posting Komentar

Posting Komentar