![]() |
Opini -Bayangkan, jika demo mahasiswa yang mengguncang Orde Baru tak pernah terjadi. Mungkin nepotisme dan kolusi akan terus merajalela, ekonomi dikuasai keluarga penguasa, dan kita tak akan pernah mencicipi demokrasi dengan pemilihan langsung.
Namun, ironisnya, demokrasi yang kita raih dengan darah dan keringat kini tercoreng. Mahasiswa, yang dulu dianggap pelopor perubahan, kini dibungkam dengan anarkis, penjara, pentungan, dan gas air mata.
Para pemimpin zaman reformasi, yang dulunya tak pernah bermimpi menduduki kursi penting, kini berpesta di atas buah perjuangan yang tak pernah mereka rasakan. Mereka yang tak pernah berjuang melawan rezim otoriter, kini berkuasa dan berambisi mengeruk kekayaan tanpa mengingat sejarah perjuangan bangsa.
Ingatlah, bangsa dan negara ini diperjuangkan dengan darah pejuang, darah pahlawan. Jangan sak enak-enak diberi kekuasaan tanpa ada darah perjuangan, lalu mengacak-ngacak negeri ini menjadi milik sendiri!
Para pemimpin di negeri Pancasila ini, ingatlah pada pejuang kita dulu! Ingatlah bahwa anda memimpin negeri ini tidak melalui perjuangan, tapi mengadi pada kelompok sebuah partai yang terbentuk setelah bangsa ini merdeka dari para pahlawan.
Lihatlah, di era reformasi ini, kesenjangan semakin menganga! Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Stabilitas ekonomi amburadul, pembangunan fisik digalakkan, tapi pembangunan sumber daya manusia minim. Apakah kita ingin disuguhi pemimpin yang tidak memiliki SDM tinggi, yang bisa ada rasa keadilan dan selalu dingin di hadapan masyarakat?
Negeriku kini panas luar dalam bagi rakyat karena melihat para pejabat berlomba-lomba memperkaya diri dari bawah ke atas dan dari instansi manapun. Hutang negara meledak!
Dan mengapa hutang negara terus menumpuk? Karena kurangnya efisiensi dan optimalisasi sumber-sumber pembiayaan! Proyek infrastruktur yang dibiayai dengan utang, pembangunan Ibu Kota Negara Baru yang menguras APBN, sistem perpajakan yang belum optimal, dan pengelolaan BUMN yang kurang efisien, semua menambah beban hutang negara.
Ingatlah, rakyat menunggu perubahan nyata, bukan hanya janji manis. Rakyat menunggu pemimpin yang berani berjuang untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok.
Jangan biarkan ambisi mencoreng nama baik reformasi yang telah kita raih dengan darah dan keringat. Bangunlah negeri ini dengan kejujuran, integritas, dan kepedulian terhadap rakyat! [@rogiq bin Hasan]






Posting Komentar