Globenews, Banyuwangi_Muncar_ Pagelaran Napak Tilas Asal Muasal Desa Tapan Rejo yang diselenggarakan pada sabtu, 3 November 2018, ternyata masih menuai kontroversi. Para pemuda Tapan Rejo, Wiyono selaku ketua dan Bambang Suwoyo selaku pembina pemuda, ingin meluruskan sangkaan serta anggapan tentang pagelaran itu, dengan mengundang seorang tokoh ulamak KH. Fahrurozi dari desa Bulurejo.
Dalam pagelaran tersebut di hadiri ketua Forpimka kecamatan Muncar dan kepala desa Tapan rejo, Suryatmojo, Spd.
Kirab pagelaran Napak Tilas, para pemuda memikul tumpeng berbagai 'woh- wohan' dari 'polo kesimpar' dan 'polo kependem' dengan iring iringan tabuhan klotekan kentongan bambu, berjalan 2 km menuju perbatasan dusun Kedung Dandang Ngasem dengan kawalan kurang lebih 100 personil TNI dan Polri. Kirab berangkat jam 8.00 pagi dari depan rumah Bambang Suwoyo
Sementara dalam sambutan kepala desa, Tapan Rejo suryatmojo,Spd, membahas tentang sedikit kesalah pahaman antar tokoh.
"Hanya sedikit salah paham antar tokoh karena semua itu kurang mengertinya dan kurang saling mendekat jadi kalau ada masalah tolong di selesaikan di kantor desa dengan cara tiga pilar " inginnya.
Masih suryatmojo, mengharap kepada para tokoh memiliki pengertian dan mendengarkan semuanya, baru mengambil keputusan.
"kalau jadi tokoh jangan sampai ada gendang tinabuh selek artinya yang satu di dengar yang satunya tidak di dengarkan. Agar tidak jafi persoalan yang tidak menajam" menurut Suryatmojo, kades yang sudah 6 tahun menjabat.
Bagi dia, pemerintah desa akan selalu mendukung adanya pagelaran napak tilas yang sudah lama di perjuangan oleh pemuda. " ini bisa menjadi salah satu inovasi desa, namun kami masih perlu dukungan kesemua tokoh sebetulnya, kalau memang semua bisa memahami tentang kebudayaan, jadi saya mengharapkan tokoh semua mau mendengarkan sejelas jelasnya supaya tidak keliru pemahaman, dan titipan terakhir dari kepala desa kalau masih ada rumah yang tidak layak huni di desa Tapan rejo, tolong segera melapor ke desa agar segera bisa teratasi," Pungkasnya.
Tempat terpisah, Bambang Suwoyo pada sa'at menceritakan tentang sejarah jaman dulu pada media Globenews, yang mana kakeknya bersama saudaranya datang dari Jogjakarta era jaman belanda dulu, tahun 1918.
"Babat hutan belantara yang berada di desa tapan rejo sekarang ini, namun dulu masih alas gung liwang liwung yang mana betapa sulitnya pohon di sini untuk di tebang, lalu salah satu saudaranya mendapat wangsit agar supaya karyomejo melakukan pertapaan di kedung lampah akhirnya dengan pertapaan karyomejo berhasilah bisa menebangi pohon- pohon besar dengan mudah dan jadilah sebuah desa yang namanya topo rejo yang sekarang berubah menjadi tapan rejo, dari situlah saya sebagai cucu pewaris ingin selalu menguri- uri sejarah ini, dan saya berharap agar kirab napak tilas asal usul desa ini bisa menjadi milik desa dan bisa menjadi agenda desa dalam setiap tahunnya," terangnya.
Maka, masih Bambang, dengan semangat juang para pemuda desa Tapan Rejo yang masih punya garis keturunan dari Yogyakarta ingin menggali kembali asal muasal adanya desa tapan rejo yang menurutnya masih ada kaitan dengan leluhurnya.
Pada era kepala desa, Mustofa, yang lama sekitar tahun 2007, penggalian napak tilas ini, asal mula adanya Desa Tapan rejo dan sudah pernah di lakukan ritualisasi kirab napak tilas memikul tumpengan palawija dan di arak menggunakan gamelan, yang akan memindahkan situs sebuah batu dengan anggapan bahwa, dulu pernah di pakai untuk duduk bertapa oleh Ki Karyo mejo, pembabat Alas desa tapan rejo jaman itu.
Mungkin inilah para ulama setempat tidak setuju yang menurutnya takut membahayakan bagi akidah, melenceng dari rel agama dan mengacu ke dalam kesirikan. A / Globenews..






