GLOBENEWS, BANYUWANGI, GENTENG. Sabtu, 12/08/2018 Cukup menarik tradisi prosesi perkawinan adat masyarakat Osing Banyuwangi yang berada di Dusun Resomulyo, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi.
Disebut menarik karena masyarakat Osing Banyuwangi dikenal sebagai masyarakat yang memiliki kebudayaan campuran. Ini tampak pada busana pengantinnya yang terpengaruh gaya Jawa, Madura, Bali, bahkan pengaruh dari suku lain di luar Jawa.
"Adat kemanten cara Osing sampai saat ini masih di uri-uri dan dilestarikan agar supaya tidak hilang" terang Nur hariri, Guru Sekolah Dasar, orang tua Manten.
Dari prosesi pernikahan adat osing itu, manten di arak menyusuri kampung dengan menggunakan kuda.
Dan, menurut pemangku adat, ini menunjukan pada warga masyarakat untuk mengetahui kalau anak tersebut sepasang suami istri.
"Adat ini mbonten saget Ical, artinya, ( adat ini tidak bisa hilang ), selanjutnya ini merupakan 'perang bangkat', maksudnya melamar atau tunangan. Dan prosesi adat ini perlu dikarenakan mau jadi Kemanten harus melamar atau tunangan dulu" pungkasnya .
Masih pemangku adat , dan prosesi kematen ini akan di teruskan dengan ruwatan.
"hal ruwatan, karena merupakan sang penganten adalah anak 'punjen' ( anak terakhir ) bertujuan minta selamet, terhindar dari sengkolo ( musibah )" pungkasnya ,
Dari warga, Totok, Arak-arakan Kemanten tersebut untuk menunjukkan atas keberadaan calon suami istri pada masyarakat.
"Arak - arakan Kemanten ini merupakan Budaya Banyuwangi ( budaya Osing ), agar tetap lestari dan tidak hilang" kata Totok dengan Bangga . (JP/ GLOBENEWS )
"Adat ini mbonten saget Ical, artinya, ( adat ini tidak bisa hilang ), selanjutnya ini merupakan 'perang bangkat', maksudnya melamar atau tunangan. Dan prosesi adat ini perlu dikarenakan mau jadi Kemanten harus melamar atau tunangan dulu" pungkasnya .
Masih pemangku adat , dan prosesi kematen ini akan di teruskan dengan ruwatan.
"hal ruwatan, karena merupakan sang penganten adalah anak 'punjen' ( anak terakhir ) bertujuan minta selamet, terhindar dari sengkolo ( musibah )" pungkasnya ,
Dari warga, Totok, Arak-arakan Kemanten tersebut untuk menunjukkan atas keberadaan calon suami istri pada masyarakat.
"Arak - arakan Kemanten ini merupakan Budaya Banyuwangi ( budaya Osing ), agar tetap lestari dan tidak hilang" kata Totok dengan Bangga . (JP/ GLOBENEWS )





