Fotografer/ady
GLOBENEWS, SONGGON. Sejarah Rakyat Belambangan oleh VOC Belanda saat Perang Puputan Bayu tahun 1771-1772 di Rawa Bayu, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, para seniman mengenang dengan cara membuat drama adegan bertemakan, Perang Puputan Bayu, di area situs Rowo Bayu yang merupakan petilasan Prabu Tawangalun.
Pemeran utama sebagai Raden Rempek joko pati yaitu Alex (48) tahun, warga dusun kampungrejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon.
Dalam adegan drama tersebut, tak banyak yang bisa ia ceritakan sejarah perang puputan Bayu. Namun menurutnya perang puputan adalah perang habis habisan.
"Antara kurang lebih 60 000 prajurit, warga oseng Blambangan di bawah panji perjuangan raden Rempek atau yang lebih di kenal dengan sebutan pangeran, Joko pati, bersama sama saudarinya, Sayu wiwit, yang kemudian hari bergelar Srikandi Blambangan. Keduanya merupakan anak dari pangeran Danurejo, salah satu keturunan prabu Tawangalun, untuk melawan para penjajah kemerdekaan bangsa atau biasa di sebut oleh bangsa kita dengan sebutan kompeni belanda yg pecah di antara tahun 1771 dan 1772 masehi" terangnya.
Selain itu, Alek dalam bergelut di profesi seniman Banyuwangi, didalam reka adegan ulang perang puputan bayu itu dimaknai sebagai wahana edukasi untuk menghargai nikmatnya kemerdekaan yang sudah di perjuangkan oleh para leluhur yg bersenjatakan bambu runcing, keris, golok, dan cemeti untuk melawan belanda yang pakai senjata sejenis amunisi bom , excafator, pistol dan persenjataan lainnya.
"Reka adegan ulang ini hanya mengingatkan hati kita yg lupa agar bersukur atas nikmat kemerdekaan yg telah leluhur perjuangkan dan yang sudah berani mempertaruhkan nyawa dengan hanya bersenjatakan bambu,golok,pecut,dan keris,.melawan belanda yg ber amunisi lengkap, tank, bom, pistol," tandasnya.
Selanjutnya, Alex, juga menyayangkan seraya berharap kepada penerus bangsa negeri ini supaya lebih mengenal lebih banyak dan mengerti tentang sejarah leluhur.
mereka malah tidak banyak yang mengerti tentang sejarah leluhur, dan sangat di sayangkan lagi, lanjut Alex, mereka malah menghafalkan sejarah bangsa lain, apapun tujuanya itu adalah bentuk kelalaian anak bangsa pada leluhurnya. Dan, sayang kita sebagai cucunya,tak banyak yg tau sejarah mbah kita yg telah mandi peluh bergelimang darah ,malah sejarah bangsa lain yang galakkan untuk di pelajari. "hedeh gak tau sudah mas". Pungkasnya. (Ih/dy/Globenews )
Selanjutnya, Alex, juga menyayangkan seraya berharap kepada penerus bangsa negeri ini supaya lebih mengenal lebih banyak dan mengerti tentang sejarah leluhur.
mereka malah tidak banyak yang mengerti tentang sejarah leluhur, dan sangat di sayangkan lagi, lanjut Alex, mereka malah menghafalkan sejarah bangsa lain, apapun tujuanya itu adalah bentuk kelalaian anak bangsa pada leluhurnya. Dan, sayang kita sebagai cucunya,tak banyak yg tau sejarah mbah kita yg telah mandi peluh bergelimang darah ,malah sejarah bangsa lain yang galakkan untuk di pelajari. "hedeh gak tau sudah mas". Pungkasnya. (Ih/dy/Globenews )





