
Nyi Ratu, dengan suaranya yang menggemakan amarah dan kekecewaan, melontarkan kritik pedas terhadap rencana pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) di Penajam Paser Utara. Kata-katanya bagaikan cambuk yang menelanjangi kesombongan dan kesewenang-wenangan yang terkandung dalam proyek raksasa ini.
Di balik amarah Nyi Ratu, terpancar rasa sakit hati yang mendalam melihat hutan di Penajam Paser Utara, yang bagaikan rumah bagi rakyatnya, terancam oleh ambisi pembangunan IKN. Hutan ini bukan sekadar kumpulan pepohonan, melainkan sumber kehidupan, budaya, dan spiritualitas bagi masyarakat adat di sekitarnya. Penghancurannya demi IKN bagaikan pengusiran paksa dari tanah kelahiran, pemisahan dari akar budaya, dan perampasan hak hidup.
Nyi Ratu tak segan mencap para pemimpin di balik proyek IKN ini sebagai "iblis". Mereka yang seharusnya melindungi rakyat dan menjaga kelestarian alam, justru menjelma menjadi perusak yang tak kenal ampun. Label "iblis" ini bukan hanya hinaan, melainkan cerminan kekecewaan mendalam atas pengkhianatan kepercayaan dan perampasan hak hidup rakyatnya.
Lebih ironis lagi, Nyi Ratu melihat kontras yang mencolok antara perlakuan terhadap rakyatnya dan para pemimpin ini. Rakyatnya dipaksa untuk meninggalkan tanah air mereka demi ambisi pembangunan IKN, sementara para pemimpin ini tak ubahnya seperti raja-raja yang tak tersentuh, hidup dalam kemewahan dan kekuasaan.
Nyi Ratu, melalui amarahnya, mengantarkan pesan menohok tentang kesombongan dan kesewenang-wenangan yang merajalela dalam proyek IKN. Dia mengingatkan kita bahwa kemajuan tak boleh diraih dengan mengorbankan rakyat dan alam. Dia mengajak kita untuk introspeksi, menelaah kembali konsep "kemajuan" yang diusung para pemimpin ini, dan mempertanyakan apakah kemajuan sejati harus dicapai dengan menghancurkan kehidupan dan budaya masyarakat adat.
Amarah Nyi Ratu bukan sekadar luapan emosi, melainkan seruan untuk perlawanan. Dia mengajak kita untuk melawan kesombongan dan kesewenang-wenangan, untuk melindungi hak hidup masyarakat adat dan kelestarian alam. Dia mengingatkan kita bahwa manusia tak boleh mendewakan diri dan bertindak sesuka hati, tanpa mempedulikan dampaknya pada lingkungan dan rakyatnya.
Mari kita dengarkan amarah Nyi Ratu sebagai teguran keras, sebagai pengingat bahwa kesombongan dan kesewenang-wenangan tak boleh dibiarkan merajalela. Mari kita dukung perjuangan masyarakat adat di Penajam Paser Utara untuk melindungi tanah air dan budaya mereka. Mari kita tolak IKN yang dibangun di atas keserakahan dan perampasan hak hidup.(*)




Posting Komentar