![]() |
| Aktivis '98', Arofiq bin Hasan |
BANYUWANGI, 25 Agustus 2024 -Dalam sejarah perjuangan bangsa ini, Reformasi 1998 menjadi tonggak penting yang merobohkan kekuasaan tirani Orde Baru. Arofiq bin Hasan, salah satu Aktivis '98' yang berada di garis depan perlawanan kala itu, kini hanya bisa menggelengkan kepala melihat bagaimana cita-cita Reformasi seakan dipermainkan oleh mereka yang berkuasa saat ini. Jika dulu, setiap teriakan dan langkah mereka di jalanan dipertaruhkan dengan nyawa, kini, perjuangan itu terasa sia-sia saat kekuasaan diserahkan bukan kepada yang berkompeten, melainkan kepada mereka yang terlahir dari darah penguasa.
"Kami dulu mati-matian memperjuangkan perubahan, untuk Indonesia yang lebih baik," kenang Arofiq. "Namun, apa yang kita lihat sekarang? Kekuasaan justru dipertahankan dan diwariskan kepada keluarga, seolah-olah negeri ini adalah kerajaan pribadi."
Nepotisme yang dihidupkan kembali di bawah rezim Jokowi bagaikan tamparan keras bagi mereka yang berjuang di era Reformasi. Anak-anak dan menantu presiden kini menempati posisi-posisi penting, seakan-akan tidak ada lagi rakyat yang memiliki kapasitas, kecerdasan, dan dedikasi yang lebih pantas. "Nepotisme ini jauh lebih terang-terangan dari apa yang pernah kami lawan dulu," tambah Arofiq dengan nada getir. "Jika dulu kita melawan kolusi dan nepotisme, sekarang kita harus kembali melawan hal yang sama, hanya dengan wajah yang berbeda."
Lebih dari itu, fokus pembangunan di era ini semakin menegaskan prioritas yang salah. Gedung-gedung pencakar langit dan jalan-jalan tol dibangun megah, namun rakyat masih berjuang untuk bertahan hidup di tengah ketimpangan yang semakin tajam. "Mereka sibuk membangun infrastruktur fisik, tapi lupa membangun kesejahteraan rakyat," kata Arofiq dengan nada kecewa. "Apalah artinya jalan mulus jika perut rakyat masih lapar? Apalah artinya gedung-gedung mewah jika kesenjangan sosial makin menganga?"
Ironi ini bukan hanya mencederai semangat Reformasi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pemimpin saat ini lebih memilih kepentingan pribadi dan keluarga di atas kepentingan rakyat banyak. "Seharusnya mereka yang berkuasa saat ini adalah orang-orang yang benar-benar mumpuni dan berdedikasi untuk rakyat," tegas Arofiq. "Namun, apa yang kita lihat sekarang adalah kekuasaan yang diwariskan kepada yang terdekat, bukan yang terbaik."
Dalam refleksi ini, Arofiq bin Hasan tidak hanya mengajak kita untuk melihat kembali sejarah perjuangan, tetapi juga mengingatkan betapa pentingnya menjaga cita-cita Reformasi agar tidak lenyap di tangan para penguasa yang lebih peduli pada kepentingan keluarga mereka sendiri. "Jika kita tidak kembali kepada semangat '98, maka demokrasi yang kita perjuangkan akan semakin terpuruk, dan kita akan terjebak dalam siklus kekuasaan yang hanya menguntungkan segelintir orang," tutupnya dengan nada penuh keprihatinan.
Nepotisme dan fokus pembangunan yang salah arah ini adalah pengkhianatan terhadap semangat Reformasi. Kini, saatnya rakyat untuk kembali bersuara, menuntut keadilan yang sesungguhnya, dan memastikan bahwa Indonesia tidak kembali jatuh ke dalam cengkeraman tirani, meski dengan wajah yang lebih halus dan senyum yang menipu. (*)






Posting Komentar