GLOBE NASIONAL -Pada Sabtu, 7 September 2024 pukul 19:26 WIB, sebuah cuitan di media sosial X (dulu dikenal sebagai Twitter) memicu diskusi panas mengenai upaya Ridwan Kamil (RK) untuk membujuk Anies Baswedan melalui Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Isu ini mengemuka di tengah kekhawatiran meningkatnya jumlah warga Jakarta yang memilih untuk tidak menggunakan hak pilih mereka atau Golput dalam pemilu mendatang.
Cuitan dengan cepat menjadi viral, mencapai lebih dari 80 ribu tayangan, dan mengundang berbagai tanggapan dari pengguna media sosial. Beberapa di antaranya menunjukkan kekecewaan terhadap langkah-langkah PKS dan dugaan manuver politik yang dilakukan oleh RK. Salah satu pengguna, @Muslim_AntiPKI9, bahkan secara sarkastik memuji "pintu besi" dalam komentar, yang tampaknya mengarah pada ketidaksenangan terhadap situasi politik saat ini.
Tanggapan dari pengguna X lainnya juga bervariasi. Beberapa merasa bahwa ini merupakan langkah yang kontradiktif, seperti yang diungkapkan oleh @kurniawanaghil yang menyindir bahwa ini seperti "menepuk air di dulang terpercik muka sendiri." Sementara yang lain, seperti @kokosutarko, mengaku kecewa dengan PKS, menyatakan bahwa dirinya telah menjadi pemilih setia PKS selama lebih dari 25 tahun, namun kini memutuskan untuk Golput meskipun diiming-imingi bantuan sosial.
Dalam cuitan lain, @HERMAWA87270689 menyindir PKS sebagai "Partai Krisis Suara," mencerminkan pandangan bahwa PKS mengalami penurunan dukungan. Ada pula komentar sinis yang mengkritik Anies dan Ridwan Kamil, seperti yang diungkapkan oleh @rikiAiza yang menilai Ridwan Kamil tak perlu terlalu berjuang keras dalam persaingan politik, mengingat keunggulan di atas kertas melawan Pramono Anung.
Fenomena Golput di Jakarta memang menjadi salah satu perhatian utama bagi partai politik dalam pemilu mendatang. Tingginya jumlah warga yang enggan memilih menjadi tantangan serius, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, di mana isu ketidakpuasan terhadap pemerintah dan partai politik kerap mendominasi percakapan publik.
Cuitan ini semakin mempertegas bahwa tantangan politik di Jakarta semakin kompleks, dan upaya-upaya dari para calon pemimpin untuk meraih dukungan warga tampaknya belum sepenuhnya berhasil. Bagaimana dampak manuver politik ini terhadap pemilu mendatang masih harus kita saksikan, namun jelas bahwa isu Golput dan ketidakpuasan terhadap partai-partai politik menjadi sorotan utama.
Dalam situasi politik yang terus bergejolak menjelang pemilu 2024, manuver-manuver politik seperti yang dituduhkan terhadap RK dan PKS menjadi topik yang ramai diperbincangkan. Tantangan Golput di Jakarta juga semakin menekan partai-partai politik untuk merumuskan strategi yang lebih baik guna meraih dukungan rakyat.[*]





Posting Komentar