no fucking license
Bookmark

Diplomasi di Balik Kabut Perang: Solidaritas untuk Iran dan ‘Tenggelamnya’ Isu Ijazah Palsu

 

Azam Khan, Advokat Berdarah Madura
MEDIA GLOBE NASIONAL -JAKARTA – Di tengah eskalasi konflik yang membara di Timur Tengah, gerbang Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta menjadi saksi bisu sebuah aksi solidaritas yang sarat akan pesan politis. Kamis, 5 Maret 2026, sejumlah advokat dan aktivis yang tergabung dalam Perhimpunan Advokat & Aktivis Islam Indonesia mendatangi kantor kedutaan di Jalan HOS Cokroaminoto, Menteng, untuk menyuarakan dukungan bagi Teheran.
JAKARTA – Momentum penting terjadi di Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta saat advokat senior Azam Khan (kanan) melakukan jabat tangan komitmen dengan Duta Besar Iran, Mohammad Boroujerdi (kiri). Pertemuan ini menandai penyerahan resmi surat pernyataan solidaritas untuk Iran sekaligus kecaman terhadap aksi militer Amerika Serikat dan Zionis Israel di Timur Tengah.
Agenda yang diprakarsai oleh Ahmad Khozinudin, S.H., ini bukan sekadar audiensi formal. Kehadiran tokoh nasional sekaligus advokat senior, Azam Khan, memberikan warna lain pada pertemuan tersebut. Di hadapan media dan para penggiat media sosial, Azam dkk. membacakan pernyataan sikap yang mengecam keras tindakan Amerika Serikat dan Zionis Israel, sembari menyerahkan surat dukungan resmi kepada pihak kedutaan.

Namun, bagi Azam Khan, keriuhan berita perang internasional ini menyimpan sisi gelap bagi penegakan hukum di dalam negeri. Advokat berdarah Madura yang dikenal ulet ini menangkap adanya anomali dalam atensi publik. Ia menilai, banjir informasi mengenai strategi perang dan diplomasi global telah menjadi tirai yang menutupi isu-isu krusial domestik.

Secara spesifik, Azam menunjuk pada kasus gugatan ijazah palsu yang telah bergulir selama bertahun-tahun. Dalam pandangannya, kasus yang menyangkut integritas pucuk pimpinan nasional tersebut kini seolah menguap begitu saja dari radar pemberitaan utama.

"Kasus ijazah palsu ini sekarang tertutup karena media apa pun masih menyoroti kasus internasional, terutama masalah perang ini," tegas Azam Khan.

Kritik Azam Khan menjadi tamparan bagi industri media nasional. Ia mensinyalir adanya pengalihan isu yang sistematis, di mana publik digiring untuk terus menatap ke luar negeri sementara persoalan di "dapur" sendiri dibiarkan tanpa kepastian hukum.

Bagi Azam, solidaritas untuk Iran adalah kewajiban kemanusiaan, namun menuntut kejelasan atas gugatan ijazah palsu adalah kewajiban sebagai warga negara yang patuh hukum. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak kehilangan fokus pada integritas kepemimpinan nasional hanya karena tersedot oleh narasi perang yang tak berkesudahan.

Hingga berita ini diturunkan, audiensi di Kedubes Iran masih berlangsung, sementara di sisi lain, publik kembali ditantang: apakah mereka akan terus terhanyut dalam euforia berita internasional, atau mulai menagih kembali janji transparansi hukum yang kini sepi dari sorotan.

fiq

Posting Komentar

Posting Komentar