Kepergian Try bukan sekadar berita duka bagi militer, tapi juga pengingat akan era kepemimpinan yang disiplin. Try yang lahir di Surabaya, 15 November 1935, adalah sosok yang meniti karier dari bawah—taruna Akademi Teknik Angkatan Darat tahun 1956—hingga menjadi ajudan kepercayaan Presiden Soeharto pada 1974. Puncak pengabdiannya tercatat saat ia mendampingi "The Smiling General" sebagai Wakil Presiden periode 1993-1998.
Pesan Terakhir di Ruang Persemayaman
"Beliau itu pemberani soal NKRI dan sangat objektif," ujar Azam di tengah prosesi upacara. Menurut Azam, meski dalam kondisi kesehatan yang mulai menurun, ingatan Try tetap tajam dan suaranya tentang keadilan hukum tak pernah lamat. Kepada anak-anak muda di TNI dan Polri, Try menitipkan satu amanah: berlaku adil, tegas, dan menjaga kedaulatan dari rongrongan asing. "Indonesia jangan sampai di rongrong oleh 'asin' (pihak luar)," kenang Azam menirukan pesan almarhum.
Namun, di tengah khidmatnya upacara kenegaraan tersebut, sebuah pemandangan kontras tersaji. Kursi yang seharusnya diduduki oleh Wakil Presiden saat ini, Gibran Rakabuming Raka, tampak kosong. Absennya Gibran di acara pemakaman pendahulunya ini menjadi sorotan tajam di antara para pelayat, mengingat Try sempat melontarkan kritik pedas terhadap kepemimpinan Wapres muda tersebut di akhir hayatnya.
Keteguhan Hingga Akhir
Bagi mereka yang mengenalnya, Try Sutrisno bukan hanya seorang mantan Panglima ABRI atau Wakil Presiden. Ia adalah representasi dari generasi prajurit yang memegang teguh "Istiqomah" dalam menjalankan tugas. Bahkan saat sakit, ia masih beraktivitas dan mengingatkan para praktisi hukum untuk menegakkan aturan secara adil dan objektif.
Jenazah Try kini telah dimandikan di rumah duka RSPAD dan disemayamkan di kediaman pribadinya di Jalan Purwakarta, Menteng. Istana Kepresidenan telah menyatakan duka mendalam, meski ketidakhadiran sosok penting di upacara pemakaman meninggalkan tanda tanya di tengah penghormatan terakhir bagi sang putra terbaik bangsa.
Try Sutrisno telah pergi, namun pesannya tentang NKRI yang tidak boleh "dirongrong" akan terus bergema di lorong-lorong barak militer dan gedung-gedung kekuasaan.
[fiq/az]







Posting Komentar