![]() |
| Korupsi menggerogoti negeri, menghancurkan masa depan rakyat. Namun, hukum justru lebih keras menghukum rakyat kecil seperti Nyoman Sukena, yang hanya merawat Landak Jawa. |
GLOBE NASIONAL -Siapa pun kau yang hari ini merasa berwenang atas hukum di negeri ini, rakyat mungkin sudah tak lagi berharap banyak. Terang benderang, hukum seolah hanya berlaku tegas bagi mereka yang tak bersuara, yang kecil, yang tak punya kuasa. Lihat saja kasus Nyoman Sukena, seorang warga Bali yang hanya ingin melestarikan Landak Jawa, spesies langka yang kian terancam. Apa yang didapatnya? Ancaman lima tahun penjara, seakan-akan dia telah melakukan kejahatan besar.
Sementara di tempat lain, ada Toni Tamsil, seorang koruptor yang dengan mudahnya menggelapkan Rp 300 triliun uang negara. Jumlah yang fantastis, yang seharusnya bisa digunakan untuk membangun sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur yang lebih baik. Apa hukumannya? Denda Rp 5.000. Tidak lebih mahal dari secangkir kopi. Bagaimana mungkin penyelewengan triliunan rupiah bisa dihukum begitu ringan, sementara menjaga satwa dilindungi dihukum begitu berat?
Jangan-jangan negeri ini lebih takut pada nasib Landak Jawa yang tak bersalah ketimbang pada koruptor yang merampas hak hidup rakyat banyak. Sejak kapan Landak Jawa menjadi ancaman yang harus dihukum keras? Landak itu tidak merusak masa depan bangsa, tidak menyebabkan kelaparan, dan tidak pernah mengurangi anggaran pendidikan. Justru dengan merawat landak itu, Nyoman Sukena sedang menjaga keseimbangan alam, sesuatu yang lebih penting untuk masa depan.
Tapi koruptor seperti Toni Tamsil? Dia tak hanya mencuri uang negara, dia mencuri masa depan. Setiap rupiah yang hilang karena korupsi berarti makin banyak anak-anak yang putus sekolah, makin banyak rumah sakit yang tak berfungsi, dan makin banyak rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Setiap tindakan korupsi adalah kejahatan langsung terhadap hak hidup rakyat, sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada seekor Landak Jawa yang sedang dilestarikan.
Siapa pun yang memimpin hukum di negeri ini, tidakkah kau melihat ketidakadilan yang begitu mencolok? Mengapa kejahatan besar seperti korupsi diperlakukan begitu ringan, sementara tindakan kecil yang menjaga alam dihukum dengan seberat-beratnya? Di mana letak hati nuranimu, wahai penegak hukum?
Korupsi, terang benderang menghancurkan sendi-sendi bangsa. Tapi mengapa kejahatan ini tampak seperti hanya sekelumit debu di mata hukum? Mengapa keadilan seolah terbalik, yang kecil dipukul keras, yang besar malah dibiarkan begitu saja?
Sekali lagi, siapa pun yang memimpin negeri ini, apa kau tak melihat bahwa keadilan sudah lama gulita? Koruptor hidup dengan terang benderang, menikmati hasil jarahan tanpa rasa bersalah, sementara rakyat kecil seperti Nyoman Sukena harus merasakan beratnya hukuman karena tindakan yang tak sepatutnya dianggap salah.
Jangan biarkan negeri ini terus berada dalam kegelapan. Jangan biarkan ketidakadilan merajalela hanya karena hukum lebih berpihak pada yang kuat. Sudah saatnya kau membuka mata, melihat bahwa koruptorlah yang sesungguhnya menghancurkan negeri ini. Karena, meskipun Landak Jawa tak pernah menyengsarakan rakyat, korupsi akan terus menerus memiskinkan bangsa. [•]






Posting Komentar