no fucking license
Bookmark

Laporan Utama: Setahun 'Berburu' Ijazah Gaib di Gerbang Senayan

MENAGIH JANJI: Roy Suryo bersama Tim Pemburu Ijazah saat menggelar aksi massa di depan Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Kamis (16/4/2026). Mereka mendesak pembuktian forensik atas keaslian ijazah mantan Presiden Joko Widodo.
JAKARTA MEDIA GLOBE NASIONAL – Aroma orasi dan kepulauan asap knalpot menyatu di depan Gedung DPR/MPR RI, Kamis, 16 April 2026. Setahun pasca aksi "Geruduk Rumah Jokowi," gelombang massa yang menamakan diri sebagai Tim Pemburu Ijazah kembali turun ke jalan. Tuntutannya tunggal namun tajam: meminta pertanggungjawaban hukum atas dugaan ijazah palsu mantan Presiden Joko Widodo.

Aksi yang berlangsung di bawah terik matahari Jakarta ini bukan sekadar nostalgia demonstrasi. Para aktivis, tokoh hukum, hingga purnawirawan jenderal berkumpul untuk menegaskan bahwa isu ijazah ini belum usai. Mereka menyebut ijazah tersebut sebagai "barang gaib"—ada namanya, sering dibicarakan, namun tak pernah benar-benar menampakkan wujud aslinya untuk diuji secara forensik.

Pasar Pramuka dan Jejak "Eko Panjul"

Dalam orasinya, salah satu koordinator aksi melontarkan tuduhan spesifik. Ia menyebutkan bahwa ijazah yang selama ini diklaim milik Jokowi diduga kuat diproduksi di Pasar Pramuka, Jakarta Timur. Nama Eko Sulistio alias Eko Panjul, yang disebut sebagai relawan setia dari Solo sekaligus aktivis kiri, diseret sebagai sosok yang diduga membidani lahirnya dokumen tersebut.

"Logika kita harus bermain. Kalau memang punya yang asli, pasti sudah ditunjukkan sejak awal. Ketika dia takut menghadirkan ijazahnya di persidangan, dapat diduga keras itu palsu. Bahkan mungkin, Jokowi tidak punya ijazah sama sekali," ujar sang orator di hadapan massa yang menyahut dengan teriakan "Betul!" secara serempak.

Narasi kepalsuan ini kian dipertebal dengan detail visual. Para demonstran menyoroti perbedaan fisik antara foto dalam dokumen ijazah yang beredar dengan sosok Jokowi yang dikenal publik. Mereka menunjuk detail kumis, kacamata, hingga bentuk telinga dalam foto ijazah yang dianggap tidak identik dengan ciri fisik mantan orang nomor satu di Indonesia tersebut.

Kesaksian dari Solo hingga "Ijazah Gaib"

Aksi ini juga dihadiri oleh Bambang Tri Mulyono, penulis buku Jokowi Undercover, yang sengaja datang dari Blora. Kehadirannya seolah menjadi simbol perlawanan bagi kelompok ini. Selain Bambang, hadir pula Wuri, seorang aktivis asal Solo yang mengaku merasa malu dengan isu ini.

"Saya dari Solo, malu punya tetangga seperti Jokowi yang merusak tatanan demokrasi. Ijazahnya gaib, 99,9 persen kami yakini palsu, seperti halnya ijazah anaknya, Gibran," tegas Wuri dengan nada emosional.

Ketegangan narasi juga muncul dari kalangan ibu-ibu atau "emak-emak" lintas provinsi. Bunda Meri, perwakilan dari Lampung, menceritakan pengalamannya saat menagih janji Jokowi di Solo. Ia menyebut ada upaya penggiringan opini melalui 10 wartawan yang diperlihatkan ijazah namun dilarang memotretnya. "Kenapa hal simpel seperti memperlihatkan ijazah untuk diuji forensik saja tidak bisa dilakukan? Ini yang membuat kegaduhan dan perpecahan antar-anak bangsa," tuturnya.

Sarkasme dan Tantangan untuk Prabowo

Azam Khan, advokat yang turut mendampingi aksi tersebut, menggunakan analogi internasional untuk menyindir sikap Jokowi. Ia membandingkan kasus ini dengan Vladimir Putin di Rusia atau menteri agama di Pakistan yang langsung menunjukkan dokumen asli saat kredibilitas mereka digugat.

"Itu namanya negarawan. Gentlemen. Tapi di sini, kita seperti mengejar hantu. Hanya kedengaran suaranya, tapi tidak ada yang melihat bentuk ijazahnya," kata Azam.

Tim Pemburu Ijazah kini menaruh harapan besar pada Presiden Prabowo Subianto. Mereka meminta agar kepolisian dan institusi hukum tidak lagi berada di bawah bayang-bayang pengaruh rezim lama. Mereka mendesak agar Prabowo memerintahkan pengusutan tuntas terhadap ijazah Jokowi serta dugaan keterlibatan keluarganya dalam "menikmati kebohongan" tersebut.

Buku Putih dan Plaster untuk Sang Pengkhianat

Di penghujung aksi, Roy Suryo dan tim menegaskan tetap mempertahankan integritas buku Jokowi White Paper. Menariknya, mereka melakukan aksi simbolis dengan menutup salah satu nama penulis di sampul buku menggunakan plaster. Nama tersebut disinyalir adalah seorang rekan yang dianggap telah berkhianat dan mencabut tulisannya karena tekanan atau kepentingan pribadi.

"Buku ini tetap ilmiah dan akan kami pertahankan. Plaster ini adalah simbol untuk pengkhianat yang telah berbohong pada dirinya sendiri dan Tuhan," tegas Roy.

Bagi para aktivis ini, perjuangan mengungkap ijazah bukan sekadar urusan selembar kertas, melainkan soal kejujuran dalam kepemimpinan nasional. Di depan gerbang DPR, mereka bersumpah tidak akan berhenti hingga "hantu" ijazah itu menampakkan wujud aslinya atau hukum mengambil tindakan tegas.

Tim Liputan MEDIA GLOBE NASIONAL

Posting Komentar

Posting Komentar